Singkat cerita, kami mengobrol panjang lebar di kafe itu. “Kamu cantik sekali Von.” bisiknya lagi saat saya menelentangkan diri di ranjang. Bokep pistol keperakan itu. “Kenapa enggak?” tanya Jenny balik sambil melucuti pakaiannya sendiri. Saya sempat berniat kabur, namun ia memegangi lengan saya.“Hey, jangan kabur dong!” ujarnya ramah, meski mengenggam kuat lengan saya. Ia melihatku makan dengan tatapan bahagia. Ketika saya bertanya tentang teh itu, Jenny menjawab bahwa teh itu diambilnya dari sebuah hotel kecil tempat ia menagih hutang. Mmm.., puting susu hangat itu terasa lucu dalam mulut saya. Ohh, saya tidak tahu apa yang dilakukannya di bawah sana, tapi rasanya sungguh nikmat. Melihat senyumnya, saya merasa agak patah hati juga, karena sudah merasa jatuh cinta kepadanya. “Kenapa, Jen?” tanya saya ragu.“Aghh..” saya terhenyak sedikit ketika ia mencolek kemaluan saya.




















