Ku tunggu Zenit selesai menyiksanya saja agar aku baru bisa melampiaskan nafsuku.Lima belas menit berlalu, Zenit mulai bosan, dia terlihat puas dan tersenyum, “Cukup deh”, katanya sambil memandangi tubuh Minoru yang penuh dengan garis-garis merah bekas cambukan.“Sisanya buat lu bro, gratis, malam ini lu pake aja sepuasnya…”, kata Zenit lalu meninggalkan Minoru.Zenit duduk di sudut sambil main hp, akhirnya ini waktu ku. Zenit kali ini ingin berpesta untuk kemenangannya melalui masa perkuliahannya.“Selamat bro… IPK 4 nih pastinya…”, olok ku lalu duduk bersamanya.“Hahaha, enggak lah, cukup-cukup saja…”, jawabnya sambil memberikan sebotol bir Guinnesse padaku.“Kita senang-senang dulu hari ini…”, kata Zenit.Kami pun mulai minum. Bokep Minoru menggeleng-geleng,“Minoru mau pulang…”, katanya, dia seperti ketakutan.“Tapi, saya belum keluar…”, kataku.Minoru kemudian menangis, dia ingin segera menyelesaikannya tanpa aku harus berejakulasi di dalam memeknya.“Lain kali Minoru temani lagi… Minoru tidak



















